Jumat, 08 Januari 2010

PO Rini


DASAR – DASAR PERILAKU KELOMPOK

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah perilaku Organisasi
 Dosen : Drs. A Jajang W Mahri, M.Si
 












Oleh
Rini Sondari 0607117





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT Rabb semesta alam. Sehingga dengan rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Sholawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW, para sahabat dan kita sebagai umatnya hingga akhir jaman.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Perilsku Organisai. Penyusun berharap dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan penyusun khususnya dan para pembaca pada umumnya. Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu sarana penambah pengetahuan kita khususnya mengenai Dasar-dasar Perilaku Kelompok yang ada dalam suatu organisasi.
Tentunya masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena segala sesuatu yang sempurna datanganya hanya dari Allah SWT dan segala kekurangan datang dari penyusun pribadi. 
   
Bandung, November 2009


Penyusun











DAFTAR ISI

Hal.
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Klasifikasi Kelompok 3
2.2 Dasar-dasar Perilaku Kelompok 4
2.3 Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok 7
2.4 Struktur Kelompok 8
2.5 Proses Kelompok 10
2.6 Pengambilan Keputusan Kelompok 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 18
DAFTAR PUSTAKA 19
LAMPIRAN-LAMPIRAN 20
BERITA ACARA 27













 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tentu kita sudah sering mendengar semboyan tersebut di telinga kita. Semboyan ini merupakan salah satu semboyan dalam perjuangan bangsa kita, dalam perang untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat secara nyata dalam contoh sebuah sapu lidi. Batang yang digunakan untuk membuat sapu lidi teramat tipis dan rapuh. Seorang anak berusia lima tahun pun dapat mematahkannya dengan mudah. Tetapi apa yang terjadi apabila kita menyatukan batang lidi yang teramat tipis dan rapuh tersebut menjadi sebuah sapu lidi? Jangankan seorang anak kecil yang berusia lima tahun, orang dewasa yang telah berusia dua puluh tahun pun tidak dapat mematahkannya walau ia menggunakan seluruh tenaganya. Begitu pula yang akan terjadi apabila kita bekerjasama dalam sebuah tim. Sebenarnya, setiap orang di bumi ini terlibat, atau melibatkan diri dalam pembangunan tim. Oleh karena itu, kita dirancang untuk berfungsi dalam jalinan dan hubungan saling ketergantungan dengan orang lain. Hal ini tidak terlepas dari sifat manusia yang merupakan makhluk sosial, yang harus berinteraksi dengan sesamanya untuk dapat hidup dengan baik. 
 Sebuah perusahaan merupakan kerjasama dari tim. Sebuah klub sepak bola merupakan hasil kerjasama sebuah tim. Bahkan untuk hal-hal yang bersifat individual pun tetap memerlukan sebuah tim untuk dapat berfungsi secara baik. Sebagai contoh dapat kita lihat pada olahraga perseorangan seperti olah raga tinju, lari, golf maupun catur. Kita tidak dapat berhasil mencapai suatu kesuksesan dalam olah raga tersebut tanpa adanya kerjasama. Seorang atlet tinju, lari, golf, dan olah raga individu lainnya tetap membutuhkan pelatih, manajer, maupun para pendukungnya untuk saling bekerjasama dalam mencapai sukses. 
 Kapan dan di mana pun orang bersama-sama, atau berada dalam kebersamaan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, itulah sebuah tim. Prioritas utama sebuah tim apapun adalah untuk belajar berfungsi seefektif dan seefisien mungkin, sehingga secara individu dan bersama-sama, anggota tim itu dapat meraih sasaran yang tepat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meraih kesuksesan tanpa bekerjasama dengan orang lain. 
 Dengan latar belakang diatas, maka dalam makalah ini akan dijelaskan tentang dasar-dasar perilaku kelompok serta pentingnya pembentukan kelompok tersebut. Sehingga akan kita ketahui apa saja yang dapat kita peroleh dari adanya kelompok tersebut.

1.2 Rumusan masalah
a. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan suatu kelompok?
b. Apa saja tahap-tahap perkembangan kelompok tersebut?
c. Struktur apa saja yang mendasari pembentukan suatu kelompok?
d. Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam suatu kelompok?
e. Dimanakah letak pentingnya akan pembentukan suatu kelompok?


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Klasifikasi Kelompok
Ada dua alasan seseorang bergabung dalam kelompok. Pertama, untuk mencapai tujuan yang bila dilakukan sendiri tujuan itu tidak tercapai. Kedua, dalam kelompok seseorang dapat tepuaskan kebutuhannya dan mendapatkan reward sosial seperti rasa bangga, rasa dimiliki, cinta, pertemanan, dsb.  
Kelompok merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya, dan dibentuk bersama berdasarkan pada interes atau tujuan yang sama.
Kelompok (group) : dua individual atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung dan saling bergabung untuk mencapai sasaran tertentu
Kelompok didefinisikan dalam beberapa arti :
1. Kelompok dalam artian persepsi : adalah sebagai orang yang terlibat dalam interaksi satu sama lain dalam suatu peprtemuan tatap muka atau serangkaian pertemuan semacam itu, dimana setiap anggota menerima beberapa kesan atau persepsi yang cukup jelas tentang anggota lainnya. 
2. Kelompok dalam artian organisasi : adalah suatu sistem yang diorganisasikan dari dua orang atau lebih yang saling berhubungan sehingga sistem tersebut melakukan beberapa fungsi , mempunyai seperangkat standar hubungan , peranan antar anggotanya, dan mempunyai seperangkat norma yang mengatur kelompok dan masing masiing anggotanya. 
3. Kelompok dalam artian motivasi : adalah sekelompok individu yang keberadaannya sebagaimana sebagai suatu kumpulan menguntungkan individu individu 
4. Kelompok dalam artian interaksi : adalah sejumlah orang yang berkomunikasi satu sama lain yang sering melampaui rentang waktu tertentu, dan jumlahnya cukup sedikit sehingga setiap orang dapat berkomunikasi dengan baik. 
Tipe tipe kelompok
Kelompok dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tipe , antara lain :
1. Kelompok formal : suatu kelompok kerja yang ditandai dan didefinisikan oleh struktur organisasi 
2. Kelompok informal : suatu kelompok yang tidak terstruktur secara formal atau tidak ditetapkna secara organisasi. 
3. Kelompok komando : kelompok yang ditetapkan atau diperintahkan langsung oleh organisasi, yang etrdiri dari seorang manajer dan bawahan langsungnya. 
4. Kelompok tugas : kelompok yang terdiri dari mereka yang bekerja bersama untuk menyelesaikan suatu tugas pekerjaan 
5. Kelompok kepentingan : kelompok yang bekerja bersama untuk mencapai suatu sasaran khusus yang menjadi kepedulian dari tiap orang 
6. Kelompok persahabatan : mereka yang bergabung bersama sama karena mereka berbagi satu karakteristik atau lebih. 

2.2 Dasar-dasar Perilaku Kelompok
2.2.1 Pengertian Perilaku Kelompok
a. Pengertian Perilaku
1) Perilaku adalah akibat
2) Perilaku diarahkan oleh tujuan
3) Perilaku dapat diamati dan diukur
4) Ada juga perilaku yang tidak dapat secara langsung diamati
5) Perilaku dimotivasi dan didorong
6) Semua yang dilakukan orang
b. Pengertian Perilaku Kelompok
Perilaku kelompok adalah semua kegiatan yang dilakukan dua atau lebih individu yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menghasilkan prestasi yang positif baik untuk jangka panjang dan pertumbuhan diri.
2.2.2 Faktor-faktor Kesuksesan Kelompok
Faktor-faktor yang menyebabkan suatu kelompok lebih sukses dari kelompok lain adalah karena kemampuan anggota kelompok, ukuran kelompok, tingkat konflik, dan tekanan internal pada anggota untuk menyesuaikan diri pada norma kelompok. Setiap kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan kondisi internalnya.
a. Kondisi Eksternal pada Kelompok 
Semua kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang dipaksakan dari luar. Kondisi eksternal ini mencakup: strategi keseluruhan organisasi, struktur wewenang, peraturan formal, sumber daya, proses seleksi karyawan, evaluasi kinerja dan system imbalan, bidaya, dan tataran kerja fisik.
 Strategi Organisasi 
 Strategi keseluruhan organisasi yang meliputi tujuan-tujuan organisasi dan cara-cara untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh manajemen puncak.
 Struktur Otoritas 
 Ketentuan mengenai otoritas yang dimiliki oleh setiap bagian / setiap individu dalam suatu organisasi karena setiap individu atau kelompok memiliki otoritas yang berbeda-beda, seperti: siapa melapor kepada siapa, siapa yang mengambil keputusan, atau keputusan apakah yang pengambilannya diberikan kepada individu atau kelompok.
 Peraturan formal 
 Oraganisasi menciptakan aturan, prosedur, kebijakan, dan ragam lain untuk membakukan perilaku karyawan. Hal ini dilakukan untuk membuat konsistensi perilaku karyawan dan bisa diprediksikan apa yang akan dilakukan kelompok kerja karyawan tersebut.
 Sumber Daya Organisasional 
 Merupakan sumber daya uang, waktu, bahan mentah, peralatan yang dialokasikan oleh organisasi pada kelompok. Sumber daya organisasional berpengaruh terhadap perilaku organisasi.
 Proses Seleksi Personil 
 Kriteria-kriteria tertentu yang digunakan dalam proses merekrut karyawan yang akan menentukan siapa yang akan ditempatkan ke dalam suatu kelompok kerja.
 Evaluasi Kinerja dan Sistem Ganjaran (imbalan) 
 Proses melakukan evaluasi terhadap hasil kerja anggota kelompok setelah dievaluasi, maka perlu diteruskan dengan system ganjaran (imbalan) akan hasil evaluasi tersebut.
 Budaya Organisasi 
 Merupakan standar perilaku untuk karyawan mengenai perilaku yang dapat diterima dengan baik atau yang tidak dapat diterima, seperti cara berpakaian, peraturan organisasi, perilaku jujur, integritas, dan semacamnya.
 Tataran Fisik Kerja 
Tataran fisik kerja yang dipaksakan ke kelompok oleh pihak-pihak eksternal mempunyai landasan kerja yang penting bagi perilaku kelompok kerja. Seperti arsitek yang menentukan tata letak ruang kerja untuk mengurangi gangguan suara dan sebagainya.
b. Sumber Daya Anggota Kelompok 
Ada dua sumber daya yang berperan sangat penting pada anggota individu, yaitu kemampuan dan karakteristik kepribadian.
 Kemampuan
Ada hubungan antara kemampuan intelektual (pengetahuan) dan keterampilan dengan relevansi terhadap tugas terhadap kinerja kelompok.
 Karakteristik Kepribadian 
 Ada hubungan antara karakteristik kepribadian yang positif dalam budaya terhadap produktivitas, semangat, dan kekohesifan kelompok.



2.3 Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok
a. Model Lima Tahap
Ada lima tahap perkembangan kelompok, atau lebih dikenal dengan model lima tahap :
1. Tahap pembentukan (forming) : tahap pertama dalam perkembangan kelompok yang dicirikan oleh banyak nya ketidak pastian. Mengenai struktur, maksud dan tujuan, dan kepemimpinan kelompok. Pada tahap ini dicirikan oleh banyak ketidakpastian mengenai maksud, struktur, dan kepemimpinan kelompok. Para anggota melakukan uji coba untuk menemukan tipe-tipe perilaku apakah yang dapat diterima baik. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok.
2. Tahap keributan (storming) : tahap kedua dalam perkembangan kelompok yang dicirikan oleh konflik didalam kelompok, artinya para anggota menerima baik eksistensi kelompok, tetapi melawan adanya kendala kendala yang dikenakan oleh kelompok terhadap individualitas. Tahap keribuatan adalah tahap komplik di dalam kelompok (intragrup). 
3. Tahap penormaan (norming) : tahap ketiga dalam perkembangan kelompok, dicirikan oleh hubungan akrab dan kekohesifan (ke saling tertarikan) Tahap penormaan adalah tahap di mana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok menunjukan sifat kohesif (saling tarik). Sudah ada rasa memiliki identitas kelompok dan persahabatan yang kuat. Tahap ini selesai jika telah terbentuk struktur kelompok yang kokoh dan menyesuaikan harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar.
4. Tahap pengerjaan (performing): tahap keempat dalam perkembangan kelompok, dimana kelompok tersebut sepenuhnya berfungsi dan diterima dengan baik. 
5. Tahap penundaan (adjourning) : tahap terakhir dalam perkembangan kelompok dengan ciri kepedulian untuk menyelesaikan kegiatan kegiatan , bukan melaksanakan tugas. 
b. Model Alternatif: Untuk Kelompok Temporer dengan Tenggat
Kelompok ini memiliki urutan tindakan (atau bukan tindakan) mereka sendiri yang unik, seperti:
 Menentukan arah kelompok
 Kerangka pola perilaku dan asumsi dimana kelompok akan melakukan pendekatan terhada proyeknya muncul dalam pertemuan pertama ini. Pola-pola yang bertahan lama dapat muncul dini pada detik-detik pertama usia kelompok itu.
 Fase inersia (lemas tanpa energy)
 Fase transisi (peralihan)
 Transisi mengawali perubahan besar
 Fase inersia kedua mengikuti masa transisi
 Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh kegiatan yang sangat terpicu.
Singkatnya model keseimbangan-tecela mencirikan kelompok-kelompok yang memperagakan kurun waktu inersia yang panjang yang disla oleh perubahan-erubahan revolusioner pendek, yang terutama dipicu oleh kesadran anggotanya akan aktu tenggat. Akan tetapi, ingatlah bahwa model ini tidak berlaku lagi bagi semua kelompok. Pada hakikatnya itu terbatas pada kelompok tugas temporer yang bekerja dalam tenggat penyelesaian yang terbatas waktu.

2.4 Struktur Kelompok
Kelompok kerja memiliki struktur yang dapat membentuk perilaku anggota kelompok tersebut. Ada beberapa variable struktur kelompok, yaitu:
a. Kepemimpinan Formal
Pemimpin formal harus selalu ada dalam setiap kelompok, seperti: manager, Kepala Satuan Tugas, atau Ketua Komite.
b. Peran
Peran adalah seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial tertentu.
Kelompok-kelompok memberlakukan persyaratan peran berlainan ke individu,seperti:
 Identitas Peran
Ada sikap dan perilaku actual tertentu yang konsisten dengan peran dan menciptakan identitas peran.
 Persepsi Peran
Pandangan seseorang mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu.
 Pengaharapan Peran
Pengharapan peran adalah bagaimana orang lain menyakini apa seharusnya tindakan anda dalam situasi tertentu.
 Konflik Peran
Hal ini terjadi jika individu dihadapkan kepada pengaharapan peran yang berlainan. Misalnya patuh kepada tuntutan satu peran yang menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran lain. 
Setiap anggota kelompok memainkan suatu peran; konsisten dengan perannya atau sebaliknya. Bisa jadi bertemu dengan konflik dan tuntutan hasil dengan peran itu dari organisasinya.
c. Norma
Norma adalah standar perilaku yang dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok dan digunakan oleh semua anggota dalam kelompok tersebut. Norma digunakan untuk mempengaruhi perilaku anggota dan norma setiap kelompok akan berbeda dengan kelompok lain. Norma bersifat informal walaupu ada yang formal, yaitu yang ditulis dalam buku petunjuk organisasi.
d. Status
Status adalah posisi yang didefinisikan secara sosial yang diberikan kepada kelompok atau anggota oleh orang lain. Status ada yang formal dan informal. Status mempengaruhi kekuatan norma dan tekanan di dalam kelompok.

 Status dan norma.
 Status mempunyai beberapa pengaruh yang menarik terhadap kekuatan norma dan tekanan untuk penyesuaian. Misalnya anggota berstatus tinggi pada kelompok sering diberi lebih banyak kebebasan untuk menyimpang dari norma dibandingkan anggota kelompok yang lain.
 Kesetaraan Status.
 Penting bagi anggota kelompok untuk menyakini bahwa hierarki status itu setara. Jika dipersepsikan adanya kesetaraan terciptalah ketidakseimbangan yang terjadi dalam berbagai jenis perilaku korektif.
 Status dan Budaya.
 Perbedaan budaya akan mempengaruhi status, oleh sebab itu penting adanya status yang bervariasi di antara berbagai budaya.
 Ukuran
 Ukuran kelompok dapat mempengaruhi perilaku keseluruhan kelompok tetapi efeknya tergantung pada variable yang diperhatikan.
e. Komposisi
Untuk menyelesaikan suatu kegiatan, kelompok yang terdiri dari beranekaragaman keterampilan dan pengetahuan (heterogen) akan lebih efektif dibanding kelompok yang anggotanya homogeny.
f. Kepaduan
Kelompok-kelompok itu berbeda menurut kepaduan mereka, yaitu sejauh mana para anggota tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk di dalam kelompok. Kepaduan itu akan membuat hubungan kelompok menjadi produktif. 

2.5 Proses Kelompok
Dalam tugas kelompok, sumbangan setiap individu tidak nampak jelas karena ada individu yang mengurangi upayanya sehingga hasil yang diperoleh oleh kelompok maksimal tetapi ada juga individu yang menciptakan keluaran (ouput)
lebih besar dari pada masukan (input).
 Sinergi
Sinergi adalah tindakan dua atau lebih substansi yang menghasilkan dampak atau efek yang berbeda dari penjumlahan masing-masing substansi itu. Seperti: kemalasan social memperlihatkan sinergi yang negative.
 Efek Fasilitas Sosial
 Efek fasilitas social mengacu pada kecenderungan membaik atau memburuknya kinerja sebagai respons atas kehadiran orang lain.

2.6 Pengambilan Keputusan Kelompok
1. Komposisi kelompok
Ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun komposisi kelompok:
 Penerimaan tujuan umum; mempengaruhi kerjasama dan tukar informasi 
 Pembagian (divisibilitas) tugas kelompok; tidak semua tugas dapat dibagi 
 Komunikasi dan status struktur; biasanya yang osisinya tertinggi paling mendominasi dalam kelompok. 
2. Ukuran kelompok;
Semakin besar kelompok semakin menyebar opini, konsekuensinya adalah semakin lemah partisipasi individu dalam kelompok tersebut. 
3. Kesamaan anggota kelompokKeputusan kelompok akan cepat dan mudah
dibuat bila anggota kelompok sama satu dengan yang lain.
4. Pengaruh (pengkutuban) polarisasi kelompok. Seringkali keputusan yang
dibuat kelompok lebih ekstrim dibandingkan keputusan individu. Hal itu disebabkan karena adanya perbadingan sosial. Tidak semua orang berada di atas rata-rata. Oleh karena itu untuk mengimbanginya perlu dibuat keputusan yang jauh dari pendapat orang tersebut.
 Cara lain untuk memahami tindak komunikasi dalam kelompok adalah dengan melihat bagaimana suatu kelompok menggunakan metode-metode tertentu untuk mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Dalam dataran teoritis, kita mengenal empat metode pengambilan keputusan, yaitu kewenangan tanpa diskusi (authority rule without discussion), pendapat ahli (expert opinion), kewenangan setelah diskusi (authority rule after discussion), dan kesepakatan (consensus).
a. Kewenangan Tanpa Diskusi
Metode pengambilan keputusan ini seringkali digunakan oleh para pemimpin otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika kelompok tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini cukup sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan-persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.
Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan, ia akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidak percayaan para anggota kelompok terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila dibuat secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok,daripada keputusan yang diambil secara individual.
b. Pendapat Ahli
Kadang-kadang seorang anggota kelompok oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik, apabila seorang anggota kelompok yang dianggap ahli tersebut memang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota kelompok lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karenasangat sulit menentukan indikator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik; untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit.
c. Kewenangan Setelah Diskusi
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila dibandingkan dengan metode yang pertama. Karena metode authority rule after discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota kelompok dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan yang diambil melalui metode ini akan mengingkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari proses diskusi yang terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota kelompok sangat diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu pada anggota kelompok akan bersaing untukmempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan. Artinya bagaimana para anggota kelompok yang mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.
d. Kesepakatan
Kesepakatan atau konsensusakan terjadi kalau semua anggota dari suatu kelompok mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan keputusan ini memiliki keuntungan, yakni partisipasi penuh dari seluruh anggota kelompok akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
Namun demikian, metodepengambilan keputusan yang dilakukan melalui kesepakatn ini, tidak lepas juga dari kekurangan-kekurangan. Yang paling menonjol adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat.
Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung pada faktor-faktor:
 jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan, 
 tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan 
 kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut. 
Kekuatan pengambilan keputusan kelompok
Kelompok Lawan Individu
Kelompk menghasilkan nformasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan menyatukan berbagai sumber daya dari beberap individu, kita membawa lebih banyak masukan ke dalam proses keputusan. Selain banyak masukan, kelompok dapat membaa heterogenitas ke proses keputusan. Kelompok menawarkan peningktan keanekargaman pandangan. Ini membuka peluang ke lebih banyak pendekatan dan alternative menuju dipertimbangkan. Bukti menunjukan bahwa kelompok hamper selalu akan bekinerja baik bahkan lebih baik daripada individu terbaik. Dengan demikian kelompok menghasilkan keputusan bermutu yang lebih tinggi. Pada akhirnya. Kelompok menghasilkan peningkatan penerimaan terhadap solusi. Banyak keputusan gagal setelah pilihan kahir diambil karena orang-orang tidak menerima solusi itu. Anggota kelompok yang berpartisipasi dalam membuat keputusan itu mungkin dengan antusiasnya mendukung keputusan tersebut dan mendorong yang lain untuk menerimanya.
Kelemahan pengambilan keputusan kelompok
Meskipun ada banyak nilai tambah, keputusan kelompok memiliki kelemahan.pengambilan keputusan kelompok menghabiskan waktu. Khususnya membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencapai pemecahan disbanding dalam kasus dimana keputusan diambil seseorang sajaada tekanan konformitas dalam kelompok. Hasrat dari anggota kelompok untuk diterima dan dianggap sebagai asset bagi kelompok itu dapat mengakibatkan dihentkannya setiap kesepakatan yang muncul. Keputusan kelompok dapat didominasi oleh satu atau beberapa orang. Jika koalisi dominant ini terdiri atas anggota dengan kemampuan rendah atau sedang, efektivitas seluruh kelompok akan berkurang. Akhirnya keputusan kelompok menjadi tidak efektif akibat tanggung jawab yang ambigu. Dalam keputusan individual, jelas siapa yang bartanggungjawab. Dalam keputusan kelompok, tanggungjawab masing-masing anggota menjadi berkurang.
Efektivitas dan efisiensi
Menurut kriteria ketepatan (akurasi), keputuan kelompok cenderung lebih tepat. Bukti menunjukan bahwa rata-rata kelompok mengambil keputusan dengan kualitas yang lebih baik daripada individ. Tetapi jika efekibitas keputusan didefinisikan menurut kecepatan, individu lebih unggul. Jika kreativitas itu penting,kelompok cenderung lebih efektif daripada individu. Jika efektivitas berarti tingkat penerimaan yang dicapai oleh keputusan akhir, maka sekali lagi kelompok lebih unggul.
Menurut kriteria efisiensi, kelompok hampir selalu kalah telak dibanding pengambil keputusan secara individual. Dengan beberapa pengecualian, pengambilan keputusan kelompok menghabiskan lebih banyak jam kerja daripada jika individu harus menangani masalah yang sama sendirian. Pengecualian cenderung berupa kasus-kasus dimana, keputusan tunggal harus mengahbiskan banyak waktu untuk mengkaji dokumen dan berbicara dengan orang lain. Karena kelompok mencakup anggota dari bidang beraneka, waktu yang dihabiskan untuk menelusuri informasi dapat dikurangi. Umumnya kelompok kurang efisien daripada individu.
Dua efek samping dari pengambilan keputusan kelompok mendapat perhatian cukup banyak dari para peneliti OB. Kedua fenomena inimempunyai potensi mempengaruhi kemampuan kelompok untuk menilai alternatif secara positif dan mengahsilkan solusi keputusan yang berkualitas.
Fenomena pertama, yang disebut pikiran kelompok (Groupthink).
Merupakan proses ketika kelompok menghadapi keputusan yang penuh stres, mereka menjadi lebih memperhatikan adanya kesepatan daripada mengevaluasi fakta-fakta yang muncul dalam situasi yang dipikirkan. Hal ini bisa saja terjadi karena kelompok melakukan devensive avoidance, yaitu mencoba menghindari informasi yang mungkin menyebabkan kecemasan.
Janis (1982) menulis bahwa group thinking terjadi karena pembuat keputusan itu adalah kelompok yang kohesif, ada kesalahan struktural dalam organisasi (pimpinan yang dominan), adanya situasi yang provokatif. Gejala Groupthink dapat digambarkan dari 3 tipe: yaitu: over-estimasi terhadap kelompoknya, kedekatan berpikir, dan tekanan untuk menjadi sama (seragam).
Kelompok dapat menghindari Groupthink dengan dua tahap: discouraging leader bias, dan menghindari isolasi kelompok. Kelompok jangan sampai dominan, dan memberikan kepada anggota untuk mengkritik. Untuk menghindari isolasi kelompok, rencana kebijakan kelompok dapat dibagi ke dalam sub grup dan dan sub grup ini bertemu untuk membahas tujuan kelompok secara terpisah, dengan pemimpin masing-masing sub group yang berbeda dengan pemimpin semula.
Fenimena kedua disebut pergeseran kelompok (grupshift). Fenomena inimmengindikasikan bahwa dalam membahas seperangkat alternatif dan mencapai pemecahan tertentu, para naggota kelompok cenderung membesar-besarjkan posisi (pendirian) awal yang mereka anut. Dalam beberapa situasi, sikap hati-hati medominasi, dan ada pergeseran konservatif. Tetapi bukti sering menunjukkan bhawa kelompok cenderung mengarah ke pergeseran yang riskan. Dalam diskusi kelompok menimbulkan geseran pendapat anggota yang signifikan ke pendapat yang ebih kestrem ke pendapat mereka sebelum melakukan diskusi. Pergeseran kelompok sesungguhnya daat dipandang sebagi kasus istimewa atas pikiran kelompok. Keputusan kelompok mencerminkan norma pengambilan keputusan dominan yang berkembang selama diskusi kelompok. Apakah pergeserankeputusan kelompok menuju ke arah lebih berhati-hati ataukah ke arah yang lebih banyak resikonya, hal itu tergantung pada norama pradiskusi yang dominan.
























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia adalah salah satu dimensi penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Seluruh pekerjaan dalam perusahaan itu, para karyawanlah yang menentukan keberhasilannya. Sehingga berbagai upaya meningkatkan produktivitas perusahaan harus dimulai dari perbaikan produktivitas karyawan. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya. 
Perilaku kelompok dalam suatu masyarakat dipengaruhi dua proses yang saling berkaitan, yaitu intregasi sosial dan deferensiasi sosial. Integrasi sosial lebih kecenderungan saling menarik dan menyesuaikan diri, sedang deferensiasi sosial lebih ke arah perkembangan sosial yang berlawanan menurut jenis kelamin, agama dan profesi.
Di lain pihak, organisasi berharap dapat memenuhi standar-standar sekarang yang sudah ditetapkan serta dapat meningkat sepanjang waktu. Masalahnya adalah cara menyelaraskan sasaran-sasaran individu dan kelompok dengan sasaran organisasi; dan jika memungkinkan, sasaran organisasi menjadi sasaran individu dan kelompok. Untuk itu diperlukan pemahaman bagaimana orang-orang dalam organisasi itu bekerja serta kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka dapat memberikan kontribusinya yang tinggi terhadap organisasi. 











DAFTAR PUSTAKA

Stephen, P Robbins, 2006. Perilaku Organisasi Edisi kesepuluh. PT Indeks
www.wordpress.com/perilaku+kelompok
www.wikipedia .org/kelompok sosial
http://www.geocities.com/Athens/Forum/1650/htmlpersonality.html


































 

 

























LAMPIRAN - LAMPIRAN










 














JURNAL TERKAIT






 











 







 







   
 


   

















BERITA ACARA
































BAB 8
DASAR-DASAR PERILAKU KELOMPOK

Disampaikan pada: tanggal ........................

Pertanyaan yang merupakan permasalahan yang diajukan diantaranya:
1. Penanya: Aah Siti Fatimah
Pertanyaan: Mengapa berkelompok itu penting? Bagaimana cara mengatasi permasalahan dari anggota kelompok yang keluar dari kelompoknya?
Jawab: Mengingat manusia itu merupakan makhluk sosial yang mana dalam kehidupannya manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pastilah dia membutuhkan bantuan dari orang lain. Apabila manusia itu hidup sendiri maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan sosialnya. Jadi melalui kelompok otomatis individu dituntut untuk bisa berinteraksi dengan individu lainnya dan akan terciptalah suatu kerjasama yang salang membutuhkan dan akhirnya akan menciptakan suatu keuntungan bagi pihak-pihak yang ikut dalam kelompok tersebut.
  Ketika individu memutuskan untuk pindah atau keluar dari suatu kelompok tentunya hal ini banyak dipangaruhi oleh beberapa faktor. Mungkin saja kondisi/suasana kelompok yang memang tidak disuakinya atau pula tujuan dari pada kelompok itu yang memenag bertentangan dengan prinsip individu tersebut. Nah apabila terjadi demikian, dari sisi kelompok haruslah menciptakan suatu perkumpulan yang benar-benar nyaman bagi para anggoanya agar anggota tersebut betah dan mau ikut bekerjasama bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini tentunya berkaitan dengan peran daripada ketua kelompok yang harus mampu berinteraksi dengan para anggotanya dengan cara mengetahui secara lebih dekat apa yang menjadi keinginan dari anggotanya agar anggota merasa bahwa dia itu benar-benar diakui. Inilah salah satu tujuan dari orang ikut ke dalam suatu kelompok yaitu aga seorang individu memperoleh suatu pengakuan dari oarang di sekitarnya.
2. Penanya: Kinanti Geminastiti
Pertanyaan: Motif orang berkelompok adalah agar harapannya bisa tercapai, apabila harapannya itu tidak terealisasi apa yang akan dialakukan dan seharusnya dilakukan? Bagaimana kaitannya dengan produktivitas?
Jawab: Harapan merupakan cita-cita yang seseorang miliki dan harapakan dari apa yang dia kerjakan. Apaila harapan tersebut tidak tercapai mungkin orang akan berusaha mencari jalan lain yang menurutnya lebih baik daripada yang sebelumnya. Misalnya ketika dalam kelompok yang dia masuki sekarang harapannya itu belum tercapai maka hal ini akan berpengaruh pada produktifitasnya. Pekerjaan yang tadinya dia kerjakan dengan sungguh-sungguh tetapi karena dia mengetuhi bahawa dengan kerja sampai kapanpun di lingkungn dia bekerja sekarang ini tidak bisa mewujudkan harapannya maka kemungkinan besar akan menurunkan produktifitasnya. Cara kerja yang dilakukan akan sedikit menurun dan akhirnya produktifitas atau hasil yang diciptakanpun tidak akan maksimal. Dengan kondisi inilah dikhawatirkan banyak dari anggota kelompok yang tidak percaya lagi dengan kelompoknuya sendiri sehingga dia keluar dan mencari kelompok/organisasi lain yang menurutnya bisa membawa dia mewujudkan harapannya itu.
3. Penanya: Yogi Firmansyah
Pertanyaan : Variabel apa yang bisa mempengaruhi suatu keberhasilan dari kelompok? Apabila dilihat dari pengambilan keputusannya, lebih baik mana antara pengambilan keputusan kelompk dengan keputusan yang diambil secara individu?
Jawab :Keberhasilan suatu kelompok tentunya sangat dipngaruhi oleh anggota dari kelompok itu sendiri. Apabila kinerja kelompoknya itu bagus maka akan menghasilkan produktivitas yang baik pula. Jadi apabila ingin meningkatkan keberhasilan kelompok haruslah menumbuhkan kecintaan terhadap kelompok tersebut yang akan menciptakan suatu kepedulian diantara kelompoknya dan kahirnya dari kepedulian tersebut akan timbul suatu peningkatan produktivitas kerja diantara anggota yang akhirnya kana tercapai suatu keberhasilan bagi kelompok tersebut. Sehingga disini diperlukan peran pemimpin yang bisa mebahwahi para anggotanya menuju keberhasilan. Tidak dapat dipungkiri jugabahwa keberhasilan kelompok itu banyak dipengaruhi oleh kepemimpinan atasannya. 
Pengambilan keputusan apabila dilihat dari sisi efisien, tentunya pengambilan keputusan secara individual lebih baih ketimbang pengambilan keputusan secara berkelompok yang lebih banyak mebutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar. Tetapi disisi lain, pengambilan keputusan secara kelompok itu lebih akurat dibandingkan pengambilan keputusan secara individual. Hal ini terjadi karena dalam kelompok akan muncul berbagai macam alternatif pemecahan dari berbagai kalangan anggota kelompok dan ini akan memperkaya pengetahuan para anggota serta keputusan yang diambil nantinya adala keputusan yang menurutnya baik untuk semua dan apabila ternyata keputusan tersebut salah maka hal tersebut adalah merupakan tanggungjawab bersama antara anggota kelompok.
4. Penanya: Fajar
Pertanyaan: Apabila didalam kelompok itu terjadi suatu gap didalam kelompok bagaiman cara mengatasinya?
Jawab: Gap antar kelompok ataupun didalam kesatuan kelompok biasanya terjadi pada kelompok informal, misalnya kelompok persahabatan/pertemanan. Kebanyakan kasus terjadinya gap ini diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam hal kebiasaan hidup ataupun kepentingan diantara anggota. Anggota yang memiliki hobi membaca cenderung kaan mencari teman yang memiliki hobi baca/belajar juga ketimbang mencari teman yang hobinya jalan-jalan. Jadi gap ini memang sudah biasa terjadi yang penting bagaimana cara kita menyikapinya karena makin banyak perbedaan akan menambah karakteristik dari kelompok tersebut. Yang terpenting adalah cara kita menyikapinya, khususnya adalah dengan cara meluruskan kembali apa yang menjadi tujuan kelompok dan jangan sampai tujuan individu lebih penting daripada tujuan kelompoknya.


Poskan Komentar